miranda gultom


Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi KPK) menjadwalkan pemeriksaan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) 2004 Miranda Swaray Goeltom berlangsung hari ini, 10 Januari 2012. Ia diperiksa untuk melengkapi berkas tersangka kasus suap cek pelawat, Nunun Nurbaetie.


"Setelah kami memeriksa beberapa saksi kasus suap DGS BI, KPK memang akan meminta keterangan Miranda sebagai saksi untuk Ibu NN (Nunun). Rencananya yang bersangkutan dijadwalkan besok diperiksa," kata juru bicara KPK Johan Budi SP di kantornya, Senin, 9 Januari 2012.


Pada Jumat lalu, 6 Januari 2012, salah satu petugas satuan pengaman yang menjaga rumah Miranda mengatakan, "Hari Selasa, Ibu (Miranda) ke KPK." Menurut petugas tersebut, pada Kamis siang, 5 Januari 2012, ada kurir dari KPK yang mengantarkan surat untuk Miranda. Diduga surat tersebut merupakan pemanggilan untuk pemeriksaan Miranda.


Pemeriksaan Miranda dilakukan setelah sebelumnya KPK memeriksa sejumlah saksi untuk melengkapi berkas Nunun. Hari ini yang dimintai keterangan selaku saksi adalah Direktur PT Wahana Esa Sembada Ari Malangjudo, anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004 Hamka Yandhu, dan Direktur Keuangan PT First Mujur Budi Santoso.


Usai diperiksa Ari mengaku ditanya soal aliran cek pelawat, termasuk proses penyerahan cek darinya dan Nunun ke sejumlah perwakilan fraksi DPR. Namun mengenai pemilik cek pelawat Ari mengaku tak ditanya apa pun. Ia juga membantah kenal dekat dengan Miranda. Menurutnya Nununlah yang akrab dengan pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.


Sedangkan Hamka mengaku hanya ditanya dua pertanyaan soal proses perkenalannya dengan Nunun dan Miranda. Kepada wartawan Hamka membantah pernah datang ke rumah Nunun untuk dikenalkan dengan Miranda. Pengakuan tersebut bertolak belakang dengan yang diungkapkan pengacara Nunun, Ina Rahman, beberapa waktu lalu.


Johan menambahkan dalam waktu dekat KPK juga berencana meminta keterangan Nunun selaku tersangka. Keterangan Nunun diharapkan bisa menjadi pintu masuk KPK untuk menguak siapa pemilik cek pelawat dan kepentingannya memenangkan Miranda dalam bursa DGS BI 2004. "Siapa sebenarnya sponsor sedang kami dalami sambil melengkapi berkas. Kami juga mendalami missing link soal siapa sebenarnya pemilik cek pelawat," kata dia.


Dalam kasus cek pelawat ini Nunun diduga kuat berperan menyebarkan 480 lembar cek pelawat bernilai Rp 24 miliar kepada puluhan anggota Dewan periode 1999-2004. KPK telah menetapkan puluhan tersangka dari anggota DPR periode 1999-2004. Sebagian besar di antaranya telah divonis bersalah oleh pengadilan.


ISMA SAVITRI

Versi cetak