Koleksi batik dan tenun dalam berbagai rancangan busana siap pakai, maupun aplikasi batik pada aksesoris, semakin beragam dan kreatif. Keragaman inilah yang ditampilkan dalam Woman Heritage Expo 2011 di Gandaria City, Jakarta berlangsung hingga Minggu, 23 Oktober 2011.


Koleksi 10 perancang busana dan satu perancang aksesori dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) turut menyemarakkan pameran yang diadakan untuk mengangkat produk lokal buatan 27 Usaha Kecil Menengah (UKM) ini.


Perancang APPMI memamerkan koleksinya di area khusus desainer, dan dalam peragaan busana. Sebanyak 20 busana bertema Indonesia, dengan nuansa batik dan tenun, ditampilkan dalam konsep trunk show di area pameran UKM di Mainstreet Gandaria City, Jakarta, Sabtu (22/10/2011). Tak ketinggalan, satu label aksesori Aarti yang menghadirkan aksesori topi dari tenun.


Pada peragaan busana, sebagian besar desainer menampilkan busana perempuan dengan aplikasi batik, selain juga jumputan yang menjadi ciri khas perancang muda Dian Pelangi.


Busana muslim perempuan mendominasi, dengan pilihan warna cerah. Model coat yang feminin, terusan batik pendek kasual elegan, serta busana batik untuk pria menjadi pemandangan lain di peragaan busana yang digelar APPMI untuk memeriahkan pameran ini.


Sebelas perancang APPMI yang berpartisipasi dalam kegiatan ini di antaranya Hannie Hananto, Monika Jufry, Tuty Adib, Merry Pramono, Ida Leman, Ida Royani, Dian Pelangi, Handy Hartono, Defrico Audy, Poppy Karim, dan Ariani Pradjasaputra dengan label aksesori Aarti yang didirikannya bersama desainer busana lukis Agnes Budhisurya.


"Pameran yang mengangkat tema batik dan tenun ini kebanyakan menghadirkan produk fashion, sekitar 60 persen, dan 40 persennya kerajinan. Sepanjang tahun ini, pameran seperti ini sudah diadakan empat kali di Gandaria City, dan beberapa kali diadakan di beberapa mal lainnya," jelas Ketua Relief Indonesia Nurul Qomaril selaku penyelenggara pameran UKM kepada Kompas Female, di sela pagelaran busana.


Menurut Nurul. pameran produk lokal dan hasil karya UKM Indonesia merupakan jembatan bagi pengusaha kecil untuk mempromosikan dan memasarkan produknya. Produk lokal buatan UKM binaan Relief Indonesia cenderung digemari pengunjung mal di Jakarta Selatan.


"Produk batik dan kerajinan lokal, termasuk dari UKM, lebih digemari dan diapresiasi oleh pengunjung mal di kawasan Jakarta Selatan," jelasnya menambahkan, dari 27 UKM yang terlibat pada pameran kali ini, 85 persennya adalah pengusaha kecil perempuan yang juga menyasar pasar perempuan.


Di bawah koordinasi Dinas UMKM DKI Jakarta, Relief Indonesia membina sekitar 70 UKM yang kebanyak berasal dari Jakarta. Selain Jakarta, Relief Indonesia juga membina UKM dari Cirebon, Jepara, Solo yang kebanyakan adalah bisnis berskala industri rumahan.


"Mereka dilibatkan tak hanya dalam pameran, namun juga pelatihan dan seminar. Selain juga UKM baru yang menjadi anggota kami, berkesempatan mempromosikan produknya melalui talkshow bersama Woman Radio," tambahnya.


Jika Anda ingin menambah koleksi busana batik dan tenun, juga mencari aksesori etnik yang cantik, masih ada waktu hingga Minggu. Anda dapat membeli produk lokal mulai harga Rp 24.000.


 

Versi cetak