TRIBUNNEWS.COM, MISRATA - Setelah menjalani 42 tahun hidup sebagai diktator di Libya, Kolonel Moammar Khadafi menjalani hari-hari terakhir hidupnya dengan sengsara.


Bersembunyi di kota kelahirannya, Sirte, pria 69 tahun itu hidup dengan beras dan pasta yang dikais para pengawalnya dari rumah-rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya. Ke rumah-rumah itu pula Khadafi bersembunyi secara berganti-ganti.


Begitulah pengakuan seorang pejabat keamanan senior Khadafi yang tertangkap kepada New York Times, Sabtu (22/10/2011). Pejabat itu adalah Mansour Dhao Ibrahim, komandan unit Pengawal Rakyat. Unit yang amat ditakuti ini merupakan jaringan relawan dan informan yang setia pada Khadafi.



Menurut Ibrahim, ketika hidup dalam kepungan musuh-musuhnya dan harus selalu berpindah, Khadafi mulai tidak sabar. "Dia suka bilang, ‘Kenapa tak ada air, kenapa tak ada listrik," kata Ibrahim.


Ibrahim yang selalu berada di dekat Khadafi selama dalam pengepungan mengatakan, ia dan pengawal lain kerap menyarankan kepada Khadafi untuk menyerahkan kekuasaan dan meninggalkan Libya. Namun Khadafi dan salah satu anaknya, Mutassim yang akhirnya juga tewas, tak pernah menggubris.


Ibrahim yang juga sepupu Khadafi ini diduga kuat terlibat dalam pembantaian demonstran di kawasan Tajura, Tripoli. Ia juga diduga masih menyimpan senjata dan tahanan di pertaniannya tak jauh dari Tripoli. (The New York Time/Surya)


 

Versi cetak