Sinyal perlambatan ekonomi dunia yang semakin kuat tidak menyurutkan optimisme ekonomi Indonesia untuk bertahan. Bahkan, meski arus modal asing sempat keluar dari Indonesia, pemerintah yakin gelontoran modal asing akan kembali masuk ke Indonesia.



"Kita harapkan begitu, tetapi kita juga harus jaga ekonomi dengan terus melakukan reformasi dibidang regulasi dan terus memperbaiki iklim usaha, sehinga Indonesia akan lebih baik," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo, akhir pekan lalu.


Agus menyebut, meski sinyal perlambatan ekonomi dunia semakin jelas, tapi Indonesia justru menjadi salah satu negara yang berfundamental cukup tangguh. Buktinya, dalam pertemuan G20 (pertengahan Oktober lalu) diakui bahwa diantara negara-negara yang besar dalam forum tersebut, ekonomi Indonesia merupakan salah satu ekonomi yang tumbuh dengan baik dan diharapkan tidak terlalu terkena guncangan global.


Meski begitu, Agus tak menampik jika gejolak yang terjadi di pasar global sesekali juga bakal berimbas ke Indonesia. Salah satu contohnya, fluktuasi arus modal yang masuk ke Indonesia melalui instrumen pasar modal. Meski ada risiko arus modal keluar dari Indonesia jika terjadi goncangan di dunia, tapi Agus yakin ketika pasar dunia bergejolak, maka negara dengan fundamental bagus yang akan menjadi tempat pelarian modal.


"Dengan kualitas pertumbuhan bagus, baik, dan prospek baik, kemudian (para investor) akan melakukan investasi kembali di Indonesia," ujarnya.


Catatan saja, pada 14 September 2011 lalu terjadi krisis kecil di perekonomian global yang imbasnya membuat nilai tukar rupiah melemah menembus angka di atas Rp 9.000 per dollar AS, dan kepemilikan asing di SUN tergerus drastis. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu, pada 14 September, kepemilikan asing di SUN melorot menjadi Rp 245,92 triliun. Padahal, pada 9 September 2011 kepemilikan asing di SUN tercatat masih sebesar Rp 251,23 triliun.


Kepemilikan asing di SUN memang sempat terus merosot hingga menjadi Rp 212,46 triliun pada 7 Oktober 2011. Tapi kini, kepemilikan asing di SUN kembali terdongkrak. Per 19 Oktober 2011, kepemilikan asing di SUN tercatat sudah kembali naik menjadi Rp 218,49 triliun. Ini artinya, investor asing sudah kembali masuk ke Indonesia.


Agus juga mengakui, beberapa waktu lalu memang terjadi koreksi di pasar SUN. Tapi saat ini sudah kembali pulih. "Malahan, invesor yang ikut keluar pada 14 September - 30 September mungkin sekarang menyesal karena kondisi saat ini lebih baik dari saat itu," katanya.


Dari sisi investasi langsung (FDI), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, hingga kuartal III tahun ini sudah mencapai Rp 181 triliun, atau 75,4 persen dari target realisasi invesatsi yang dipatok sebesar Rp 240 triliun di tahun ini. Rinciannya, Rp 129 triliun berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Rp 52 triliun dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).


Dengan pencapaian realisasi investasi ini, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis optimis target realisasi investasi tahun ini bisa tercapai. "Kami optimis akhir tahun bisa Rp 240 triliun, jadi hanya membutuhkan sekitar Rp 60 triliun lagi pada triwulan keempat," ungkapnya, akhir pekan lalu.


 

Versi cetak