Gereja Protestan Indonesia di Papua Klasis Mimika menilai, TNI dan Polri telah gagal melindungi masyarakat yang beraktivitas di areal PT Freeport Indonesia, Timika, Papua, sehingga penembakan terus terjadi.



Hal itu tertuang dalam pernyataan sikap Gereja Protestan Indonesia di Papua Klasis Mimika yang dibacakan Ketua Badan Pekerja Klasis GPI Papua Mimika, Pendeta NTH Essuruw, saat pemakaman Albertus Laitawono (29), satu dari tiga korban tewas penembakan di mil 40, areal PT Freeport pada Jumat lalu, di Timika, Papua, Minggu (23/10/2011).


"Kegagalan aparat telah menimbulkan ketakutan, kekhawatiran, dan ketidaknyaman bagi masyarakat yang beraktivitas di areal PT Freeport," ujar Essuruw.


Karena itu, GPI Papua Klasis Mimika mengimbau pimpinan TNI dan Polri untuk menginstruksikan kepada anggotanya yang bertugas di areal PT Freeport agar lebih serius dalam menjalankan tugas. Pelaku penembakan harus bisa ditangkap.


"Jaminan keamanan kepada masyarakat yang beraktivitas di PT Freeport pun harus diberikan," tambahnya.


Selain meminta aparat keamanan lebih serius menjalankan tugasnya, GPI Papua Klasis Mimika dalam pernyataan sikapnya juga memberi perhatian atas belum tercapainya titik temu antara manajemen PT Freeport Indonesia dengan pekerjanya dalam membahas kenaikan upah pekerja.


GPI Papua Klasis Mimika meminta agar kedua belah pihak tetap bermusyawarah untuk mencari solusi terbaik. Pihak kepolisian pun diminta tidak lagi menggunakan tindakan kekerasan dalam menyikapi konflik antara manajemen PT Freeport dan pekerja, seperti halnya yang terjadi di Terminal Gorong-Gorong, Timika, tanggal 10 Oktober lalu.


 

Versi cetak